“Minum dulu, Izora,” ujar Bintang. Ia meletakkan dua mug di atas meja. Uap hangat menari di tepinya. “Aku berasa dicuekin tapi ngga beneran dicuekin.” Helia tergelak. “Dikit lagi, A.” “Dari tadi juga gitu, dikit lagi mulu,” rajuk Bintang. Kali ini memang benar ‘dikit lagi’. Kata terakhir di daftar yang tengah ia buat akhirnya selesai ia beri highlight biru. Hampir seminggu berlalu sejak makan siang mereka di hot pot dan Helia akhirnya berhenti berharap vendor-vendor menyebalkan itu tiba-tiba akan sadar sendiri. Ia juga berhenti menunggu momen yang tepat. Karena tak akan ada momen yang benar-benar nyaman jika menyangkut ritme usaha. “Ini hari Minggu, kan Neng. Waktunya buat Aa.” Bintang mulai lagi. Helia menutup buku, lalu menatap Bintang. Kesayangannya itu langsung tersenyum sumringa

