Aroma sedap menyusup perlahan ke seisi ruang. Meja panjang di sisi hall mulai terisi. Cangkir-cangkir putih disusun rapi. Teh dan kopi siap diseduh. Belum ada prasmanan besar. Baru aneka roti, pastry, gorengan, desert, dan potongan buah yang dibuat oleh para ahlinya. Bukan tim Théologie, karena hari ini mereka ikut berbahagia di tempat tersebut. Prosesi sungkeman baru saja selesai, sisa haru terasa masih menggantung. Beberapa orang berdiri, mengendurkan tubuh sejenak sekaligus memberi jarak pada residu emosi. Yang lainnya tetap duduk... mengatur napas atau sekedar memperhatikan penampilan diri. Helia dan Arani duduk bersisian. Kebaya mereka kontras namun serasi. Fabian duduk di samping Arani, menguap dengan kelopak mata yang terlihat berat. “Mas ngantuk?” tanya Arani. “Hmm. Semalaman

