HARI BERSATU

1856 Kata

“Tegang, ya Teh?” tanya Geya. Ia salah satu bibi Bintang, bukan karena pertalian darah, namun karena persahabatannya dengan Edo. Dan ia juga yang mendesain cepat kebaya akad Arani dan Helia. “Banget, Ateu,” jawab Helia, jujur. “Coba sini, pemeriksaan terakhir sebelum manggung.” Helia tergelak. “Aku mau dangdutan,” selorohnya. Geya berdiri tepat di belakang Helia, memperhatikan pantulan gadis itu di cermin besar. Tangannya bergerak pelan, merapikan lipatan kebaya taupe di bahu, memastikan bros kecil di d**a kiri terpasang simetris. “Perfect!” ucapnya lembut. “Orangnya geulis pisan, kebayanya pas, riasannya cetar. Kamu ngga perlu ngapa-ngapain lagi.” Helia tersenyum, meski napasnya masih kacau dan detak jantungnya sedikit lebih cepat dari normal. Ujung-ujung jemarinya dingin. Ia membuk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN