DIJALANI

1517 Kata

Suasana hall masih hangat oleh sisa doa, nasehat, dan pelukan. Beberapa orang menyeka mata, sebagian lain tersenyum, berbincang, atau hanya diam memperhatikan. Waktu makan siang tiba. Cake stand tak lagi mengisi setiap meja, berganti peralatan makan dan daftar menu. Saat hidangan pertama disajikan, di situlah acara sesi selanjutnya dimulai. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Nada suara pemuda itu datar. Terlalu datar untuk disebut khidmat, terlalu santai untuk disebut resmi. Mungkin itu karena ini kali pertamanya menjadi host. Beberapa kepala menoleh. Pria itu berdiri kaku dengan mic di tangan. Ia mengenakan kemeja putih, celana dan vest hitam. Rambutnya disisir rapi, wajahnya ditenang-tenangkan—tipe orang yang kelihatan lucu justru karena tak berniat melucu. “Perkenalka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN