BINTANG YANG TENANG

2054 Kata

“Selamat malam, Pak,” ucapnya. “Saya Bintang.” Yudi menyambut jabatan tangan itu. Genggamannya mantap. “Yudi,” balasnya. Tak ada basa-basi berlebihan. Tidak ada kalimat manis yang dibuat-buat. Hanya dua orang dewasa yang saling memerhatikan, sama-sama menakar, sama-sama berhati-hati. “Pada duduk dong,” ujar Helia, memecah jeda yang mulai terasa panjang. Mereka duduk berhadapan. Helia beranjak sejenak, menghidangkan chamomile tea di dalam gelas-gelas dan teko kaca. Ia mengambil tempat di samping Bintang. Yudi di seberang. Martabak dibuka, aroma gurih dan rempah tipis menyebar di udara. Beberapa menit berlalu dengan percakapan ringan. Tentang cuaca Jakarta yang tak pernah konsisten, tentang kemacetan yang selalu terasa lebih parah di hari Senin dan Jumat, tentang banjir dan debu halus y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN