“Bunda…” Tangisan itu menyusup ke alam bawah sadarnya, mengganggu lelap, membuat Bintang sontak bangun dengan terbelalak. Efeknya jauh lebih hebat dari alarm ponsel yang sudah ia matikan sekali di lima belas menit yang lalu. Tangan Bintang meraba sisi tempat tidur. Kosong namun permukaannya masih hangat, yang berarti Helia belum lama beranjak. Ia menarik napas dalam, memutar hadap untuk mendapati sang istri dan putrinya—yang masih menangis. “Astaghfirullah,” sentak Bintang. Gegas ia bangun, ikut mendekat ke crib. Di sana, sebelah kaki dan sebagian tubuh Nadia menyelip di antara dua pagar kayu. Mungkin karena kakinya tak juga menyentuh lantai sementara ia tak bisa meloloskan diri, jalan satu-satunya adalah menangis keras. “Aa, bantuin,” pinta Helia. “Kejepit?” “Iya, aku ngga berani n

