AKHIR PENANTIAN

1414 Kata

“Ulah seuri wae atuh!” keluh Bintang—protes karena ditertawakan Arial sedari tadi—sambil menatap bayangannya di cermin. Setelan jas hitam yang ia kenakan pas membungkus tubuhnya. Rambutnya ditata rapi, wajahnya terlihat bersih dan berseri. Pembawaannya tenang, kontras dengan Fabian yang bolak-balik bernapas dalam untuk menghilangkan kegugupan. Arial duduk santai di sofa, kaki kanannya terlipat di paha kiri. Ia akhirnya menahan tawanya. Meski begitu, senyum jail tetap bertahan di wajahnya. “Mimpi naon maneh, sampai nikah aja kudu nyari temen sagala?” selorohnya. “Nanti abdi bales, Akang nangis,” balas Bintang. “Dahlah, ngalah aja. Kasian. Pamali ngeledek orang yang belum bisa kerja.” “Hush! Kampret siah!” ketus Arial. Bintang sontak tergelak. Fabian yang sedari tadi sibuk membetulkan m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN