Pilihan yang Menghancurkan.

1064 Kata

Tama pergi ke rumah Ajeng pada Jumat sore, meninggalkan Aya sendirian bersama Alif dan Arif yang sedang memasuki fase rewel. Dua hari itu terasa seperti dua tahun bagi Aya. ​Ia harus mengurus si kembar sendirian, tanpa waktu istirahat. Setiap kali Alif menangis, Arif ikut menangis. Setiap kali popok harus diganti, Aya harus bolak-balik. Malam hari, ia hanya bisa tidur dua hingga tiga jam, karena ia harus bangun untuk membuat pesanan Dapur Aya agar dapur tetap mengepul. ​Kelelahan fisiknya menjadi akut. Ia sering merasa pusing dan mual. Ia tidak lagi peduli dengan penampilannya, hanya fokus pada bertahan hidup. ​Saat-saat terberat adalah saat Aya harus menyusui si kembar. Ia duduk sendiri di kamar, menatap dinding kosong. Rasa sendirian itu menghancurkan. Ia membayangkan Tama, suaminya,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN