Arda POV “Jadi begitu?” Kuanggukkan kepala. Mulutku masih mengunyah hingga aku tidak menjawab dengan kata-kata. Kupercepat kunyahan lalu kutelan. Baru setelah itu kujawab pertanyaan Sisil. “Iya. Gue rasa tawaran gue sudah sepadan. Gue akan tanggung semua biaya pernikahan lo. Se-mu-a-nya, Sil.” Kutekan setiap silabel dari kata 'Semuanya' untuk semakin meyakinkan Sisil. Aku tersenyum. Kulihat Sisil mulai berpikir. Tentu saja dia harus mempertimbangkan tawaranku, dan pada akhirnya aku yakin dia akan menerima tawaranku. Kurang enak apa coba, nikah tanpa memikirkan biaya yang setinggi langit? “Sebenci itu kamu sama aku, ya?” Aku mendesah. “Bukan benci. Gue nggak benci elo, Sil. Kalau gue benci, ngapain gue tawarin lo biaya nikahan lo.” “Nyatanya kamu sampai rela ngeluarin uang banyak bi

