Percayalah, Max tidak pernah setakut ini. Memeluk istrinya yang terus merintih kesakitan, dia gemetar mencoba menenangkan Jingga dan ketiga anaknya. Otaknya ngeblank. Tidak sanggup lagi untuk memikirkan apapun, selain berharap cepat mendarat di rumah sakit dan istrinya segera mendapat pertolongan. Pun dengan Ibra dan Freya yang menatap anak mereka was-was. Masalahnya Jingga pendarahan. Makanya mereka ketar-ketir. Apalagi sejak awal memang sudah diperingatkan dokter, kalau kehamilan kembar tiga memang beresiko terhadap ibu dan bayinya. “Sabar ya, Hon! Sebentar lagi kita sampai!” bisiknya tak henti menyemangati istrinya. Beruntung mereka siap helikopter yang bisa dipakai saat benar-benar genting. Seperti ketika tragedi perang terbuka di depan Mirror, juga untuk menjemput Genta karena berbu

