Malam di Jakarta selalu membawa hawa lembap yang menyesakkan, namun di dalam apartemen kecil itu, udara terasa jauh lebih berat. Hanami masih berdiri di dekat meja makan, menatap dua kantong plastik besar yang diletakkan Jasson dengan napas yang masih sedikit tersengal. Jasson baru saja pulang. Keringat membasahi dahi dan lehernya, menciptakan jalur-jalur mengkilap di atas kulit putihnya yang kini sering terpapar matahari bengkel. Kaos abu-abunya menempel di punggung, memperlihatkan betapa lebar dan kokohnya bahu pria itu sekarang. Tidak ada lagi aroma parfum mahal yang dulu selalu menjadi ciri khasnya. Kini, yang tertinggal adalah aroma oli, logam, dan keringat maskulin yang entah bagaimana justru terasa sangat... nyata. "Kenapa beli sebanyak ini?" suara Hanami memecah kesunyian, ia m

