Mendengar penolakan tegas dari istrinya, Darren yang memang sudah kelelahan sepulang kerja merasa kesabarannya sedikit tergerus. Sejak tadi di perjalanan ia sudah membayangkan akan memeluk istrinya lama begitu tiba di rumah, melepas penat dengan kehangatan yang sederhana. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskan nya agak kasar, berusaha meredam rasa kesal yang muncul. Astaga, pikirnya frustrasi. Ini terasa konyol. Namun ia teringat penjelasan dokter tentang indra penciuman ibu hamil yang menjadi jauh lebih sensitif. Baiklah, batinnya pasrah. Mau bagaimana lagi? Terima saja. “Oke, oke,” katanya sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah dan mundur selangkah. “Saya menjauh dulu,” lanjutnya dengan nada yang berusaha tetap tidak menunjukkan kekesalan. Ia kemudian menunjuk ke arah lem

