Darren baru saja hendak menandatangani dokumen ketika pintu ruangannya terbuka. Ia mengangkat wajah dan langsung terkejut melihat siapa yang masuk. Tuan Wibisono, ayahnya, berdiri di ambang pintu dengan setelan rapi dan ekspresi serius. "Pa? Tumben." Darren meletakkan pulpennya, berdiri menyambut. "Kenapa repot-repot datang ke kantor? Papa bisa minta Darren datang ke rumah, kok." Tuan Wibisono melambaikan tangannya, isyarat agar anaknya tidak perlu repot. Ia berjalan menuju sofa besar di ruangan itu dan duduk dengan perlahan. Darren segera mengambil posisi di seberangnya, menunggu dengan sabar sambil memperhatikan ayahnya menuangkan teh hijau dari teko yang sudah disiapkan Jamie. "Ini soal berita yang kemarin." Tuan Wibisono menyesap tehnya sebentar, lalu meletakkan cangkir di atas me

