Semakin lama, tubuh Aluna makin melemah. Matanya berat nyaris tertutup, tapi ia menolak menyerah. Napasnya tersengal, otaknya bercabang-cabang oleh trauma gelap masa lalu yang masih menghantui. Dalam kegelapan itu, ia hanya mampu mengerahkan tenaga yang tersisa, mengetuk pintu dengan putus asa.
Tok, tok, tok!
"Tolong ... keluarkan aku …." Suaranya nyaris serak, hampir tenggelam di antara ketukan yang semakin melemah.
Di luar, Ares yang sedang lewat mendadak berhenti. Suara yang tidak asing itu, seruan putus asa itu, menusuk kesadarannya. Ia berbalik, matanya menelusuri sekeliling dengan seksama, mencari dari mana asalnya.
"Tolong!"
Hingga suara itu kembali terdengar memecah kesunyian, lebih jelas kali ini. Detik-detik terasa membeku saat Ares melangkah mendekat, hatinya berdebar keras. Dia yakin, sumber suara itu ada di balik gudang.
Ares memutar kenop pintu, tapi ternyata terkunci rapat.
Tok, tok tok!
"Ada orang di dalam?" Suaranya tegas sekaligus penuh kecemasan saat mengetuk.
Di balik pintu, Aluna merasakan secercah harapan mulai menyelinap ke hatinya yang hampir putus asa. Meski suaranya hampir hilang, ia berusaha membalas, "Iya ... tolong ...." Suaranya lirih dan nyaris terenggut.
"Siapapun kamu, sebaiknya kamu menjauh. Saya akan mendobrak pintu ini!" ujar Ares, menahan panik.
Aluna, dengan susah payah menarik tubuhnya mundur, suaranya pelan, "Iya."
Setelah memastikan jarak aman, Ares menghimpun tenaga. Dorongan pertama, pintu tetap kokoh. Kedua kali, debu beterbangan tapi pintu masih berdiri. Pada percobaan ketiga, akhirnya kayu tua itu patah, menimbulkan ledakan cahaya yang menusuk ke dalam gudang yang gelap.
Aluna, meski merasa lega ada pertolongan, tubuhnya sudah lemah tak berdaya. Pandangannya berkunang, kabur, tak sanggup menangkap wajah sang penyelamat. Yang dia tahu, di sana ada harapan yang baru saja datang menjemputnya.
"Aluna, kenapa kamu bisa di sini? Apa yang terjadi?" Ares merasa sangat terkejut. Dia bertanya dengan suara bergetar penuh kecemasan.
Namun, Aluna hanya menatap pria di hadapannya itu, lalu tersenyum pelan, senyum yang penuh ucapan terima kasih tapi juga penuh kelelahan jiwa. Dalam sekejap, matanya terpejam dan tubuhnya lemas jatuh pingsan.
"Bangun, Aluna!" Ares berusaha membangunkan, tapi tubuh wanita itu tetap tak bergerak.
Dengan panik, ia menggendong Aluna dalam pelukannya dan segera berlari keluar dari tempat tersebut, langsung menuju ke rumah sakit.
***
Tak lama setelah mendapatkan pertolongan dokter, Aluna perlahan membuka matanya. Pandangannya bertemu dengan sosok sang CEO yang sedang berbicara serius dengan dokter di sudut ruangan. Suara dokter terdengar jelas, mencoba menenangkan Ares yang masih diliputi kekhawatiran.
"Pak Ares, Anda tidak perlu khawatir. Nona Aluna hanya pingsan akibat kekurangan oksigen karena ruangan yang gelap dan pengap itu. Tapi sekarang kondisinya sudah membaik," ujar dokter sambil tersenyum menenangkan.
Ares menghela napas lega di balik wajahnya yang datar." Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Nona Aluna sudah bisa langsung dibawa pulang," kata dokter sebelum berlalu pergi, meninggalkan Ares yang diam terpaku.
Aluna menatap Ares, berkata dengan suara serak, "Pak, apa Bapak yang sudah menolong saya?"
Menoleh, Ares melangkah mendekat, matanya dingin menatap tanpa ekspresi. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Kebetulan saya lewat gudang itu dan mendengar ada yang meminta tolong."
Hati Aluna mencemooh dalam diam. "Ck, dasar pria angkuh! Tapi, kalau bukan karena Pak Ares, mungkin nyawaku sudah melayang dalam gudang itu," batinnya. "Iya, Pak. Tapi bagaimanapun juga, Bapak yang sudah menolong saya. Terima kasih," ucapnya dengan tulus, mencoba menahan getar di suaranya.
"Hem," jawab Ares singkat, membiarkan keheningan menggantung di udara sejenak. Matanya kini menusuk, penuh kecurigaan. "Bagaimana kamu bisa terjebak di dalam sana? Apa ada yang sengaja menguncimu?"
Aluna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan. "Tadi saya sedang membersihkan area depan gudang, Pak. Tiba-tiba ada orang yang mendorong saya, lalu mengunci pintunya dan pergi begitu saja. Saya tidak tahu siapa dan apa motifnya."
Ares mengerutkan dahi, tatapannya semakin tajam. "Baru sehari bekerja, tapi kamu sudah mempunyai musuh? Apa sebenarnya yang kamu lakukan, Aluna?" Suaranya berat, penuh prasangka yang menusuk relung hati.
Merasa tersentak. Aluna menatap tajam, dadanya bergemuruh oleh amarah yang tak tertahankan. "Pak, saya tahu, saya sudah membuat kesalahan di hari pertama kerja. Saya sudah menjatuhkan gelas kopi tepat di depan ruangan Bapak. Tapi percayalah, itu tidak sengaja. Selain itu, saya tidak merasa membuat masalah pada siapa pun, apalagi punya musuh." Suaranya bergetar, namun penuh keyakinan.
"Kalau kamu tidak membuat masalah, mana mungkin ada yang menyakitimu tanpa alasan?" ujar Ares, semakin menyudutkan Aluna.
Aluna menghela napas panjang, wajahnya tak bisa menyembunyikan kekecewaan sekaligus kesal. "Terserah Bapak saja mau mengatakan apa soal saya. Tapi saya jamin, saya sama sekali tidak menyinggung siapa pun. Mungkin saja ada orang yang iri dengan saya, yang sengaja mengincar saya. Karena saya pernah bertemu dengan orang seperti itu sebelumnya." Tatapannya tajam, laksana pisau yang menusuk, menyayat sepi di relung hatinya yang terdalam. Sakitnya bukan main, tapi dia tak akan terpuruk lagi karenanya.
"Ini sudah waktunya pulang. Kamu tidak perlu kembali ke perusahaan, bahkan tas kamu juga sudah ada di sini," ujar Ares, tak melanjutkan pembahasan tadi. "Di mana alamatmu? Saya akan mengantar kamu."
Aluna menggeleng, menahan rasa berat di dadanya. "Terima kasih, Pak. Tapi saya bisa pulang sendiri. Saya tidak mau merepotkan Bapak lagi."
Tiba-tiba, ponsel Aluna berdering, memecah keheningan yang menyesakkan dadanya. Tanpa pikir panjang, dia segera menjawabnya.
"Aku ada di rumah sakit dekat kantor. Kamu bisa jemput aku ke sini?"
*
Setelah membayar tagihan rumah sakit, Ares menghampiri Aluna yang tampak menunggunya. Lalu keduanya sama-sama melangkah, hendak keluar dari gedung tersebut.
"Sekali lagi, terima kasih banyak, Pak. Saya pasti akan mengganti semua biaya yang sudah Bapak keluarkan untuk biaya rumah sakit ini," ujar Aluna dengan nada terbata-bata, berusaha tetap tegar.
"Tidak perlu khawatir soal itu. Kecelakaan di tempat kerja memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab perusahaan," balas Ares, suara pria itu terdengar tegas dan meyakinkan.
Aluna mengangguk pelan, merasa sedikit lega. "Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak. Lebih baik Bapak pulang, saya juga sudah dijemput. Saya permisi dulu." Matanya tertuju pada sosok Nathan yang berdiri tegap di depan rumah sakit, langkahnya cepat menghampiri.
"Luna .... Ya ampun, Lun! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit?" Nathan bertanya dengan penuh kekhawatiran, suaranya gemetar menahan rasa takut.
Di sisi lain, Ares menatap mereka dengan tatapan yang menusuk. Dadanya bergemuruh, perasaannya tak menentu. "Apa hubungan mereka? Kenapa mereka terlihat begitu dekat?" bisiknya dalam hati, amarah dan kebingungan bercampur menjadi satu, menggerogoti setiap sudut kesadarannya.
Bersambung …