Bab 06. Apakah Benar-Benar Dia?

1236 Kata
Karena kepedulian Nathan tertuju penuh pada Aluna, ia seolah tak lagi menyadari keberadaan Ares yang berdiri diam tak jauh dari mereka. Baru ketika Aluna menguak cerita di balik luka dan rasa sakit yang membuatnya harus berada di rumah sakit, Nathan melirik Ares dengan tatapan penuh syukur dan haru. "Pak Ares, terima kasih karena sudah membawa Aluna ke rumah sakit," ucap Nathan dengan suara berat, seolah berhutang budi seumur hidup. Ares menatap datar, dingin. "Memangnya kamu siapanya Aluna? Kenapa saya harus mendengar ucapan terima kasih dari kamu?" Seketika, Aluna memotong sebelum Nathan menjawab, "Karena … dia sahabat saya, Pak. Ya, saya dan Nathan bersahabat." Nathan mengangguk, mengiyakan ucapan Aluna meskipun tak tahu kenapa di dalam hatinya terasa perih. Padahal, memang itulah kenyataanya. Sementara itu, di balik ketegaran Aluna, Ares menyimpan pikirannya sendiri. "Hanya sahabat? Tapi perhatiannya berlebihan, seperti lebih dari itu," batinnya. Lalu dia mengangguk pelan, berkata singkat, "Ya, sama-sama." Aluna menarik napas panjang, mencoba menepis kegelisahan yang masih tersisa. "Pak Ares, sekali lagi terima kasih. Saya dan Nathan pamit dulu," ucapnya, suara pelan namun tegas. Nathan berusaha membantu, menggandeng Aluna untuk berjalan. Namun, Aluna dengan cepat melepaskan diri, menatap Nathan dengan mata berkilat api semangat. "Nggak usah, Nat. Aku masih bisa jalan sendiri. Aku baik-baik saja. Kamu jangan terlalu khawatir, ya," kata Aluna, menutup babak rasa cemas dengan keberanian yang sama besarnya dengan luka yang ia tanggung. Nathan mengalah, tapi matanya tetap menempel pada Aluna sampai mereka masuk ke dalam mobil yang meninggalkan rumah sakit. Ares tersenyum tipis, senyum penuh arti yang sulit diterka. Ia berjalan menuju mobilnya, lalu menyusul meninggalkan tempat itu dengan langkah tenang tapi penuh rahasia. *** Di perjalanan, Nathan memecah keheningan dengan suara yang bergetar karena kekhawatiran, "Lun, kamu benar-benar baik-baik saja? Kok bisa sih, kamu sampai terkurung di dalam gudang seperti itu? Siapa yang melakukannya?" Aluna menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang masih berdebar. "Aku juga nggak tahu, Nat. Tapi sudahlah, jangan dibahas lagi. Yang penting aku selamat dan aku baik-baik saja." Namun, Nathan tak mau membiarkannya berlalu begitu saja. "Aku nggak bisa diam begitu saja, Lun. Aku janji akan cari tahu siapa yang tega melakukannya terhadap kamu. Orang itu harus bertanggung jawab." Tatapan Aluna penuh permohonan, suaranya melembut, "Sudahlah, Nat. Lupakan saja. Aku baru bekerja di perusahaan itu, aku nggak mau cari masalah. Tolong jangan membuat hal ini menjadi rumit." Tak habis pikir dengan pikiran Aluna, Nathan menatap wanita itu dengan serius, penuh tekad yang menggelegak. "Aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu tanpa konsekuensi." Udara di dalam mobil seketika berubah tegang, seperti janji yang baru saja tertoreh—janji yang akan mengubah segalanya. "Please, Nat ...," pinta Aluna dengan suara bergetar, seolah memohon pada angin agar bisa menenangkan badai dalam hatinya. Nathan menghela napas panjang, nada suaranya dingin dan tajam, "Kamu nggak pernah membuat masalah, Lun. Justru dia—orang itu! Aku harus tahu, apa yang membuat dia sampai setega itu, hampir mencelakai kamu!". Di saat itu, Aluna menahan napas, ingin membantah, tapi kata-katanya terkunci dalam tenggorokan saat tatapan Nathan yang tegas membungkam semua protes. Dia pun pasrah, memejamkan mata sejenak, membiarkan kesunyian menutup celah kegelisahannya. Sedangkan Nathan kembali fokus pada jalan, mobil melaju di bawah lampu jalanan yang berkelip-kelip seperti asa yang semakin pudar. *** Aluna merebahkan tubuhnya yang letih di atas tempat tidur, perutnya kenyang dan di sampingnya, sang buah hati terlelap dalam pelukan malam. Namun matanya tetap terjaga, tak mampu menyingkirkan bayangan seseorang dari pikirannya. Wajah Ares—sosok yang menantangnya tanpa sadar, mengaduk luka lama yang hampir terkubur selama lima tahun. "Apakah itu dia? Apa mungkin, Pak Ares adalah laki-laki yang dulu?" pikir Aluna dalam hati, suaranya tenggelam dalam hening. Dia mengamati langit-langit kamar, mencoba mencari jawaban dari titik kosong yang membingungkan itu. Akan tetapi ada hal yang membuatnya ragu, sosok sang CEO bukanlah lelaki kejam seperti yang dulu ia kenal, meski dingin dan arogan. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang belum bisa dia pahami. Hatinya berdentum, antara rasa penasaran dan rasa takut yang tak mudah dijinakkan. Apa arti semua ini? Dan bagaimana akhirnya, apakah luka lama itu harus dibuka kembali? Aluna menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya. Lima tahun sudah berlalu, tapi luka itu kadang terasa seperti baru kemarin—mengiris, mengoyak hati yang nyaris patah. Namun, di balik segala kepedihan itu, ada satu cahaya yang tak pernah pudar: Leo, buah hatinya yang polos, yang menghidupkan kembali semangat hidupnya yang hampir tenggelam dalam keputusasaan. Matanya menatap lembut wajah kecil itu yang tertidur lelap, bagaikan malaikat yang tak berdosa. "Sayang, kamu sehat-sehat, ya. Walaupun Mama hanya sendiri merawatmu, tapi Mama janji, Mama akan jadi ibu sekaligus ayah buat kamu." Suaranya bergetar, penuh tekad. Aluna menggenggam erat tubuh mungil Leo, seolah hanya lewat pelukan itulah ia bisa menemukan kekuatan. "Kamu adalah satu-satunya alasan Mama bertahan hidup. Kalau bukan karena kamu, mungkin Mama sudah pergi jauh, menghilang dari dunia ini." Kemudian, Aluna memejamkan mata, berharap kedamaian itu akan ikut mengantarkan tidurnya. *** Di sudut bangunan tua yang suram, bisa dikatakan sebagai markas, Ares menatap seseorang dengan mata berapi-api, amarahnya membara seolah hendak membakar segala yang berdiri di hadapannya. "Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Katakan!" bentaknya, suaranya menggema, penuh dendam dan ketegangan, menyayat kesunyian malam. Namun pria itu, meski wajah dan tubuhnya sudah babak belur, tetap membisu, tak mengakui apapun. "Sudah aku katakan, aku tidak diperintah siapa pun. Ini keinginanku sendiri," ucapnya. BUGH! Pukulan hebat kembali menghantam tubuh tawanan itu, menimbulkan deru kesakitan, tapi dia tetap teguh, tak satu pun kata keluar dari bibirnya. Ares mengerutkan kening, berdiri perlahan dari kursi. Matanya menyala penuh amarah saat memandang salah satu anak buahnya. "Paksa dia untuk mengakui! Jika sampai besok pagi dia tetap membisu, habisi tanpa ampun!" Suaranya tegas, dingin tanpa sisa belas kasihan. Tanpa menunggu jawaban, Ares meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat. Namun, sebelum sepenuhnya menjauh, dering ponselnya memecah keheningan. Ia segera meraih dan menjawabnya dengan gerak sigap. Suara pelayan yang panik terdengar dari ujung sana. "Katakan!" ucap Ares datar. Namun, suaranya seketika berubah serius, "Bawa papa ke rumah sakit, sekarang juga. Saya akan segera ke sana." Tanpa membuang waktu, ia melangkah cepat keluar, setiap detik berlalu membawa beban berat dalam dadanya—pertempuran di tempat itu seolah tertunda oleh kenyataan pahit tentang ayahnya yang kembali jatuh sakit. *** Tak lama kemudian, Ares tiba di rumah sakit, langkahnya berat menembus sunyi koridor yang dingin. Di balik pintu ruangan, ayahnya—Crimson Damian Lords, sedang diperiksa oleh ahlinya. Begitu dokter keluar, dia segera mendekat, menatap wajah yang telah berperang dengan waktu dan penyakit. Crimson menatap anaknya dengan sorot mata tajam, suara lirihnya penuh beban, "Apakah kamu harus menunggu Papa mati dulu, baru akan menikah?" Ares membalas dengan santai, seolah tak terguncang oleh kalimat itu, "Sudahlah, Pak Ketua. Aku sama sekali tak memikirkan hal itu sekarang. Yang penting, Papa fokus pada kesehatan Papa." Namun Crimson tak menyerah, suaranya mulai bergetar, penuh kegetiran yang terpendam, "Ares, ingat baik-baik. Papa ini sudah sakit-sakitan, waktu Papa sudah tidak banyak. Siapa sebenarnya, wanita yang benar-benar kamu inginkan? Apa Kamu sudah menemukannya? Kamu sudah tinggalkan dunia gelap itu dan berjanji akan segera menikah, tapi sampai sekarang, belum ada bukti sedikit pun." Matanya semakin dalam menatap putranya, seolah mengadu pada takdir. "Seluruh warisan keluarga akan jatuh ke tanganmu, Ares. Tapi, kamu butuh pendamping yang bisa kamu percaya, yang bisa berdiri di sampingmu—bukan tentang harta, tapi juga sebuah keluarga." "Papa tenang saja. Aku sudah memiliki pilihan dan aku akan segera menikah," ucap Ares, meyakinkan ayahnya. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN