Bab 07. Sesuatu Yang Mengerikan

1257 Kata
Meskipun Ares sudah berkali-kali berkata bahwa dirinya memiliki wanita pilihannya sejak lama, Crimson tetap sulit percaya. Bagaimana mungkin? Putranya itu tak pernah sekalipun membuktikan ucapannya, apalagi dengan kehidupannya yang telah lama tenggelam dalam dunia gelap, penuh bayang-bayang gelisah yang membuat wanita mana pun gentar mendekat. Dengan tegas, Crimson meminta Ares untuk keluar dari kegelapan itu dan memimpin perusahaan, sebab hanya Ares satu-satunya pewaris yang akan meneruskan kekayaan keluarga. "Tiga hari lagi, Papa beri waktu padamu—paling lambat kamu harus membawa wanita itu ke hadapan Papa. Kalau tidak, Papa yang akan mencarikan wanita untukmu," tegas Crimson tanpa ampun. Namun, Ares membalas dengan dingin, sedikit menantang, "Ini bukan zaman perjodohan, Pa. Belum tentu pilihan Papa sesuai dengan yang aku inginkan." Di antara kata-kata itu, tak terucap kecemasan dan pertaruhan yang mendalam; pertaruhan masa depan keluarga dan pilihan hidup yang tak bisa dianggap enteng. Crimson tahu, ini bukan sekadar soal wanita, tapi tentang warisan dan kehormatan yang harus dipertahankan—atau hancur dalam bayang-bayang kegelapan. "Kamu tidak pernah membawa wanita ke hadapan Papa." Suara Crimson menusuk seperti pisau berkarat. "Banyak yang mendekatimu selama ini, tapi kamu menolaknya—bahkan dengan kasar! Atau mungkin, kamu tidak pernah suka pada wanita? Atau jangan-jangan, kamu memang tak pernah merasakan cinta sama sekali?" Ares menatap Crimson dengan tajam, dadanya sesak bagai terhimpit beban yang terlalu berat. "Aku masih normal, Pa," jawabnya lirih, berusaha menahan amarah yang siap meledak. Dia menghela napas panjang, nada suaranya berubah menjadi getir, "Sudahlah. Papa Tenang saja, aku akan segera menikah. Dan aku akan kelola perusahaan dengan baik. Aku tidak akan membiarkan warisan Papa jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab." Tok, tok, tok! Saat itu, terdengar suara ketukan pintu yang berat—mengiringi masuknya sosok pria paruh baya bernama Darren Alverick Lords. Adik tiri Crimson, lahir dari ayah yang sama tapi ibu berbeda. Wajahnya selalu menebar senyum manis namun penuh racun, seorang ahli bermuka dua yang lihai menusuk dari belakang. Untuk itulah, Crimson memaksa Ares segera menikah. Peraturan keluarga mereka jelas: warisan hanya akan jatuh ke tangan yang sudah beristri, bukan bujangan. Crimson menolak dengan keras bayangan harta keluarganya dirampas oleh adiknya yang licik, yang sudah berkali-kali menyia-nyiakan kepercayaan dan mencoreng nama baik keluarga. Melihat kedatangan Darren, Crimson dan Ares saling pandang, pura-pura acuh tapi waspada mengawasi setiap gerak-gerik seseorang yang licik. Suasana ruang itu tiba-tiba membeku, ketegangan merayap seolah hawa maut mengisi udara. "Bang, bagaimana kabarmu? Maaf, aku baru dengar kamu masuk rumah sakit," kata Darren dengan suara penuh kepura-puraan, memecah keheningan. Wajahnya dibuat penuh kekhawatiran. Tapi di balik itu, Ares tahu benar—hati pamannya itu penuh dengan kebencian dan kegembiraan rahasia atas kesusahan yang menimpa Crimson. Ares mengatupkan rahang, jijik dengan sandiwara murahan itu. Di dalam hatinya, ia mengutuk perlakuan pamannya, "Cih, terus saja berpura-pura." "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang, walaupun kamu sangat sibuk,” jawab Crimson dingin, menahan diri agar tak terpancing. "Bang, kamu ini bicara apa? Mana mungkin aku bisa diam saja setelah dengar kakakku masuk rumah sakit!" Darren membalas dengan suara getir, seolah-olah ia adalah saudara yang setia, tapi nada itu penuh kedengkian terselubung. "Apa penyakit lamamu itu kambuh lagi?" tanyanya. Crimson hanya mengangguk pelan, menerima kenyataan pahit yang terus menghantui hari-harinya. "Ya, seperti biasa." Darren menghela napas panjang, matanya menatap tajam ke arah keponakannya. "Ares, kamu lihat sendiri, ayahmu ini semakin tua, tubuhnya makin rapuh dan sakit-sakitan. Paman tidak mendoakan, tapi siapa yang tahu umur seseorang akan sampai kapan?" Suaranya berat, seolah menyimpan rasa takut dan kecewa. "Kenapa sampai sekarang kamu belum juga menikah? Bukankah kamu akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga Lords?" Dia menatap dengan penuh tekanan. "Atau … serahkan saja dulu kepada Paman. Biarkan Paman yang mengurus semuanya." Namun Ares, tanpa ragu sedikit pun, menjawab dingin, "Terima kasih, Paman. Tapi, Paman tidak perlu repot-repot. Sebentar lagi aku akan menikah." Darren membeku sejenak, darah di kepalanya seakan mendidih. "Sial! Apa benar anak ini akan segera menikah? Bukankah menurut Bryan, Ares tidak pernah dekat dengan siapapun, apalagi memiliki kekasih? Bagaimana mungkin tiba-tiba saja dia mau menikah?!" umpat Darren dalam hati, dipenuhi perasaan campur aduk antara cemas, takut, curiga dan terkejut. *** Pagi itu, Aluna sudah tiba lebih awal seperti biasa. Tangannya sigap menyeduh kopi hangat, yang akan ia antar langsung ke ruang kerja sang CEO. Namun, langkahnya terhenti sesaat saat memasuki ruangan; Ares belum juga tampak, sama seperti saat ia membersihkan ruangan tadi. "Aneh, tumben banget jam segini Pak Ares belum datang," gumam Aluna dengan rasa penasaran yang susah ditahan. Tapi Aluna segera menepis pikirannya, sadar bahwa urusan itu bukan hal yang seharusnya ia pikirkan. Dengan pelan, dia meletakkan cangkir kopi di atas meja dan bersiap keluar. Tiba-tiba, pintu ruang itu terbuka lebar. Jantung Aluna berdegup kencang. Ia menduga yang masuk adalah Ares, tapi ternyata sosok yang muncul tersebut adalah Raka, sekretaris sang CEO. "Nona Aluna, apa Anda baru saja mengantar kopi untuk Pak Ares?" Suara Raka lembut tapi menyimpan nada ingin tahu. Aluna tersenyum canggung. "Pak Raka, jangan panggil saya Nona, cukup Aluna saja. Saya di sini hanya petugas kebersihan." "Oh, baiklah Aluna." Raka mengangguk lalu mengulang pertanyaannya dengan nada setengah memastikan, "Jadi, benar?" "Iya, Pak. Tapi Pak Ares belum datang, jadi saya taruh kopinya di meja," jawab Aluna dengan tenang. Namun, di balik sikapnya itu, ada rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran yang menggelayut. Kenapa hari ini Ares terlambat? Apa yang sedang terjadi? Pagi yang biasa mendadak berubah jadi penuh tanda tanya. "Jadi begini, Aluna. Baru saja Pak Ares menghubungi saya dan meminta kamu mengantarkan sebuah berkas ke kediamannya. Ini benar-benar penting," kata Raka sambil menatap serius. Aluna terdiam sejenak, hati dan pikirannya langsung bergejolak. "Kenapa harus saya? Saya, 'kan, hanya petugas kebersihan. Bukankah yang seharusnya mengantar berkas itu Pak Raka sendiri?" tanyanya dengan suara penuh kebingungan dan rasa tidak percaya. Raka menghela napas panjang, raut wajahnya sama bingungnya dengan Aluna. "Saya juga tidak tahu, tapi kali ini Pak Ares meminta kamu yang mengantarnya. Jangan coba-coba menolak, ini demi keselamatanmu," katanya pelan tapi penuh peringatan. "Keselamatan? Maksudnya bagaimana?" Aluna menatap Raka dengan mata melebar, penuh ketakutan yang mulai merayap di dadanya. Raka menatap serius, suaranya bergetar sedikit, "Maksud saya, kamu tidak mau, 'kan, dipecat atau lebih parah lagi karena menolak tugas ini? Pak Ares bukan orang biasa." Tanpa ragu, Aluna mengangguk, dadanya sesak oleh ketakutan yang tak tertahankan. "Baik, Pak. Kalau begitu, mana berkasnya? Di mana alamatnya? Saya akan antar sekarang juga!" Raka segera mengulurkan berkas dan memberitahu alamat Ares, tanpa bicara banyak lagi. Dan Aluna, tanpa menunggu lama bergegas pergi menjalankan perintah. *** Dengan naik ojek online, Aluna akhirnya sampai di sebuah kediaman megah yang tertera di alamat pemberian Raka—kediaman Lords yang terkenal anggun dan mewah. Begitu tiba di gerbang, petugas langsung menyambutnya dengan penuh hormat setelah mendengar namanya disebut sebagai tamu yang sangat dinanti oleh Ares. Tanpa banyak tanya, Aluna dibukakan pintu masuk oleh pelayan dan diarahkan menuju sebuah ruangan yang kabarnya ditempati Ares sendiri. "Nona, ruangan Tuan Ares ada di ujung sana. Saya pamit dulu," ucap pelayan itu sambil menunduk sopan. "Iya, terima kasih banyak, Bu," jawab Aluna sambil tersenyum pelan. Pelayan pun segera berlalu, meninggalkan Aluna yang melangkah sendirian di lorong panjang itu. Namun, saat melewati satu pintu yang sedikit terbuka, alih-alih melanjutkan langkah, rasa penasaran mendadak menguasai dirinya. Dari balik celah pintu itu, terdengar suara ribut—bisik-bisik tegang yang membuat bulu kuduk Aluna meremang. Dorrr! Tak disangka, detik berikutnya suara tembakan meledak nyaring, menembus keheningan bak petir menggelegar. Jantung Aluna serasa berhenti seketika, darahnya membeku dan napasnya tercekat dalam ketakutan yang membuncah. Dunia seolah terhenti dan dia tahu—sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di balik pintu itu. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN