Lama-lama Sherly merasa kepalanya bisa meledak jika terus meladeni Mimi. Darahnya terasa mendidih. Dalam benaknya, Mimi hanyalah bidak kecil, polos, lugu, dan tidak benar-benar berbahaya. Otak dari semua ini adalah Isabel. Isabel-lah yang sejak awal mengatur semuanya. Ia teringat jelas peringatan Isabel di pesta tempo hari. Senyum tenang itu, kata-kata yang terdengar santai tapi menusuk. Kalau begitu, yang harus disingkirkan adalah otaknya, bukan suruhannya. Dia mulai lelah kalau dimusuhi Isabel terus, Isabel cerdas dan licik, sudah saatnya dia ajak Isabel berdamai saja. Yang penting dia sudah berhasil mengunci hati Leon. Tanpa peringatan, Sherly melangkah cepat menghampiri Isabel dan menarik pergelangan tangan perempuan itu dengan kasar. “Hei! Mau apa kau?” bentak Isabel, jelas tidak

