Walaupun sudah memperingati Mimi habis-habisan, Sherly sama sekali belum merasa lega. Dadanya masih panas, pikirannya penuh curiga. Tanpa pikir panjang, ia langsung melangkah cepat menuju ruangan Leon. Seperti kebiasaannya, Sherly masuk tanpa mengetuk pintu. Brak. Dan ia langsung membeku. Di dalam ruangan, Leon sedang tertawa lepas, bahkan sampai menyandarkan punggung ke kursinya. Lebih parah lagi, Heri yang biasanya berwajah datar itu ikut tersenyum sambil memegang map. Pemandangan yang… sangat tidak wajar. Sherly mengerjap beberapa kali. Saat santai bersamanya saja Leon jarang seperti itu, karena kata Isabel, Leon suka gadis berpendidikan, cerdas, lembut dan anggun. Dan selama ini dia selalu bersikap seperti itu untuk mendapatkan hati Leon. “Leon?” panggilnya dengan nada cur

