Reno menampar pipi Bella dengan keras, suara tamparan itu menggema di ruang yang sunyi. Perih, tentu saja. Namun, rasa sakit yang menusuk hati Bella jauh lebih dalam daripada bekas merah di pipinya. "Kamu berani tampar aku, Kak?" kata Bella dengan mata memerah. "Ya. Kenapa tidak? Itu karena kamu sudah nekat ikut campur terlalu jauh dalam hidupku!" Suara Reno bergetar penuh amarah. Bella menatap Reno dengan mata berkaca-kaca, hatinya hancur. "Tapi Kak, selama ini kamu tidak pernah bersikap seperti ini. Apalagi, aku hanya berbicara fakta. Bukankah kamu janji, kita akan selalu bersama setelah semua urusanmu dengan Erika selesai? Sekarang dia sudah pergi. Kenapa malah kamu yang marah? Bukankah ini seharusnya jadi awal yang bagus untuk hubungan kita?" Mendengar kata-kata itu, tatapan Reno

