Begitu aku dan Mbak Ayla mendengar suara kursi digeser dari arah meja pojok, kami kompak saling menatap. “Mereka mau pindah meja,” bisik Mbak Ayla. Aku mengintip sedikit dari balik gelas. “Kayaknya iya, Mbak. Mereka mendekat!” Refleks, kami berdua menaikkan masker dan membetulkan kaca mata. Sudah tak ada harga diri, tapi siapa yang peduli? “Cepet, pura-pura sibuk!” ujar Mbak Ayla panik sambil membuka buku menu terbalik. Aku buru-buru meraih ponsel—berpura-pura membaca pesan. Padahal tak ada satu pesan pun yang masuk. “Mereka udah sampai mana?” tanya Mbak Ayla dari balik menu terbaliknya. Aku mengintip sedikit. “Dua langkah lagi sampai, Mbak. Sumpah, aku mau pingsan!” “Jangan di sini, berat ngangkat kamu,” sahut Mbak Ayla panik. Langkah sepatu kulit makin dekat. Jantungku rasanya m

