Kata Mbak Ayla, “Ya marahin baliklah. Kalau perlu, cakar aja tuh wajahnya yang sok ganteng.” Tapi kenyataannya, bukannya marah-marah, aku malah diajak menjalankan misi rahasia—udah kayak agen pencari fakta. Topi? Ada. Masker? On. Kacamata hitam? Wajib. Dan jadilah kami berdua berjalan mengendap-ngendap di area hotel, nyaris merayap di dinding, demi mencari keberadaan dua pria menyebalkan. Aku sampai mikir, ini mau nyari Om Dirga dan Mas Mahen… atau mau nangkap penjahat kelas kakap? “Itu mereka,” bisik Mbak Ayla sambil menunjuk ke arah pojok restoran. Aku langsung ikut menoleh—tentu saja hanya pakai lirikan, takut penyamaran agen rahasia amatir kami terbongkar. Dan benar saja, di sana duduk Mas Mahen dan… Om Dirga. Santai banget, seolah nggak ada dua wanita yang hampir pingsan karen

