“Apa senyum-senyum?! Sana, kasih senyumanmu yang menyebalkan itu ke pacarmu yang seksi, yang cantik, yang serba bisa!” Bukannya merasa bersalah, Om Dirga malah senyum-senyum gak jelas. Senyum yang bikin tensi darahku naik satu level. Bener-bener menyebalkan. “Apa sih?! Nggak jelas banget, sumpah!” seruku frustrasi. Tanganku tiba-tiba ditarik Om Dirga, membuat tubuhku menubruk dadanya. Dengan kesempatan itu, dia langsung memelukku erat, menaruh dagunya di puncak kepalaku seolah aku ini bantal favoritnya. Aku langsung memberontak, berusaha melepaskan diri. Tapi jelas saja kalah tenaga. Bukannya melepas, Om Dirga malah semakin mengencangkan pelukannya. “Lepas!” seruku geram. “Sayang, kenapa sih marah-marah terus?” tanyanya lembut sambil membelai punggungku. “Kalau aku bikin salah, bilan

