“Ah—” desisku pelan. Aku terbangun dengan dahi berkerut, telapak tanganku refleks menekan perut yang tiba-tiba terasa kencang. Beberapa detik kemudian nyeri mereda. Perutku kembali mengendur, meninggalkan sisa rasa tidak nyaman. “Sayang—” panggil Mas Dirga. “Kontraksi lagi?” Mas Dirga langsung bangun setengah duduk, tangannya sigap mengusap perutku dengan wajah panik. “Berapa lama kontraksinya?” “Sekitar satu menit, Mas.” Sejak kemarin aku mengalami kontraksi palsu. Datang tiba-tiba, lalu menghilang setelah aku menarik nafas panjang dan mengubah posisi duduk. Dia meraih ponselnya di nakas, mengecek jam. “Kerumah sakit aja ya. Aku khawatir kamu kenapa-napa.” “Dokter Anisa bilang belum perlu ke rumah sakit. Ini juga nyerinya sudah hilang,” jawabku, mencoba menenangkan Mas Dirga. “

