Dalam mobil yang melaju di jalanan Jakarta siang hari meninggalkan bandara, keheningan terasa menekan. Terutama antara Althaf dan sang kakak. Hanya suara lalu lintas dan dengung AC yang terdengar lembut. Jemma tertidur di kursi belakang setelah menguap panjang, menyandarkan kepala ke sisi jendela dengan wajah tenang dan lelah setelah perjalanan panjang. Athaar yang menyetir sesekali mencuri pandang lewat kaca spion ke arah adik iparnya, lalu beralih ke Althaf yang duduk di sampingnya. Tatapan mereka beberapa kali beradu, namun tak satu kata pun diucapkan. Ada beban berat yang menggantung di antara mereka, terutama di Althaf karena masih mempertahankan berita dukanya. “Aku saja begitu sedih, apalagi Jeje...” batinnya berpikir begitu, menimbulkan rasa makin tidak siapnya. Berakhir Altha

