Iyang tak sanggup menahan tangisnya. Jemma membalas pelukan itu erat-erat, seolah ingin menyerap semua kesedihan neneknya. Lalu pelukan berganti ke sang Papa, kemudian pada Mas Eka dan beberapa keluarga yang sudah berkumpul. Di sana tidak ada Darby, tidak ada Mama maupun kakak iparnya. “Mereka di rumah sakit, Je” Papa berujar pelan, mencoba tetap tenang. “Darby belum bisa pulang. Dia masih… sangat terguncang. Kita sepertinya perlu bantuan menangani tidak stabil psikisnya...” Setelah Jemma duduk dan diberi air minum, Papa perlahan menjelaskan kondisi terakhir Darby yang pastinya sangat berat. Suaranya berat, nadanya dalam. “Papa dan Darby sempat menunggui saat kepergian Ayyana?” Papa mengangguk, “waktu itu... kami di ruang rawatnya. Beberapa hari sebelumnya, bayi Ayyana... sempat men

