“Sudah datang semua?” tanya Jemma yang masih menyiapkan putranya, sentuhan akhir menyemprotkan parfum bayi yang wangi apel. “Iya, sudah ramai... suara Kai dan Rara yang paling bikin ramai. Sama Teteh Dillah ditahan dulu, jangan sampai terlihat Altair atau dia nanti pengen cepat-cepat main.” Jemma tersenyum, putranya sudah tidak sabar bergabung dengan lainnya. Apalagi jika sudah melihat sepupunya. “Kamu bersiap dulu, kita keluar sama-sama...” Pinta Althaf setelah Jemma selesai mengurus Altair. Jemma mengangguk, dandan sederhana. Terpentin pakaiannya, Althaf dan si kecil sudah serasi. Setelah selesai, ia mendekat pada Altair yang digendong ayahnya, “selamat perayaan satu tahun, Altair Fathan Zayden-Kalfani...” Altair tertawa bertepuk tangan, “Buuubuu!” “Iya, sama Bunda sama Ayah y

