TEA TIME

2231 Kata

Sabtu menjelang siang. Langit tak kunjung cerah, awan keabuan masih menghalangi matahari memancarkan terik sinarnya. Udara pun terasa lebih sejuk, tak seperti tiga hari terakhir yang embusannya terasa hangat. Dari dapur, aroma banana bread yang baru matang berpadu dengan wangi espresso yang mengalir dari mesin kopi. Ben mengitari rumah sekali lagi, dari dapur ke ruang tamu, memastikan semua tampak rapi. “Sudah pada masuk komplek, Ben,” seru Anne dari ruang tengah. Sang suami muncul dari kamar dengan membawa bassinet Safa. “Taruh di mana, ya baby?” “Kenapa dikeluarin?” “Biar Safa bisa ditaruh. Kalau pada mau gendong ya silakan, tapi kalau mau nyambi ngerjain yang lain atau tea time tanpa gendong, kan Safa ngga jauh-jauh dari kita,” tanggap Ben. “Oh. Pepetin ke dinding aja kalau gitu.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN