Elang duduk di teras rumah Delima, menatap langit senja yang mulai berubah warna. Di depannya, wanita itu datang membawa dua cangkir teh hangat. Delima menaruh satu di depan Elang dan duduk di kursi di sebelahnya. "Makasih, Delima," ujar Elang sambil tersenyum tipis. Delima hanya mengangguk, lalu menyesap tehnya pelan. Suasana hening beberapa saat. Hanya suara burung dan angin sore yang mengisi keheningan. Elang tampak gelisah. Matanya sering melirik Delima, seolah-olah sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakan sesuatu. Suasana ruangan yang sepi membuat percakapan mereka terasa begitu dalam. Pemandangan di luar jendela yang remang-remang menambah kesunyian di hati Delima. Wanita itu menatap kosong ke luar. Pikirannya tak bisa lepas dari Nando. Tadi pagi, Delima baru saja menda

