Jevian berdiri dengan rahang mengeras ketika nama itu akhirnya muncul di hadapan mereka. Hercules. Nama yang selama ini hanya dianggapnya sebagai salah satu staf senior di divisi keuangan, seseorang yang selalu bersikap santun, pendiam, dan tidak pernah menimbulkan masalah. Tidak pernah sedikit pun terlintas di kepalanya bahwa lelaki itu akan melakukan sesuatu sekeji ini: menggelapkan lima puluh miliar rupiah dana perusahaannya. “Papa… ini benar-benar dia,” ucap Jevian dengan nada rendah namun penuh tekanan. “Dia yang melakukan semuanya. Data transfernya jelas. Tanda tangannya juga ada. Dan dia menghilang sejak dua hari lalu.” Jeremy menatap layar laptop yang terbuka di hadapannya dengan tatapan yang sulit dibaca. Emosi, amarah, dan kekecewaan bercampur menjadi satu. Pria itu telah memba

