Halaman belakagng rumah itu masih terlihat kosong. Rumput hijau baru saja dirapikan, tanahnya masih lembap, dan di salah satu sudut sudah disiapkan beberapa pot besar berisi bibit mawar merah. Clara berjongkok di sana, mengenakan topi kebun sederhana dan sarung tangan kain. Tangannya kotor oleh tanah, tapi wajahnya terlihat serius sekaligus bahagia. “Aduh… pelan-pelan,” gumam Clara sambil menhata akar mawar agar tidak terlipat. Ia mengambil sekop kecil, menggali tanah sedikit lebih dalam. Nafasnya agak terengah, tapi ia tetap tersenyum sendiri. Dari balik pintu kaca ruang keluarga, Jevian berdiri sambil menyandarkan bahu ke kusen. Ia memperhatikan Clara cukup lama tanpa disadari wanita itu. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Kenapa istriku kelihatan cocok sekali jadi tukang kebun?” gu

