Pintu ruang kerja Jevian terbuka tanpa ketukan. Jevian yang sedang menatap layar laptopnya langsung mengangkat kepala, refleks mengernyit ketika melihat sosok yang sama sekali tidak ia duga akan muncul di hadapannya siang itu. Wajahnya berubah tegang dalam hitungan detik. Yeri. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit terengah, rambutnya tergerai rapi, gaun kerjanya tampak mahal dan mencolok di tengah suasana kantor Jevian yang formal dan tenang. Tanpa memberi kesempatan Jevian bereaksi, Yeri langsung melangkah cepat dan memeluknya. Jevian membeku. Lengannya terangkat setengah, refleks ingin mendorong, tapi tubuhnya justru kaku. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menepuk punggung Yeri pelan, bukan membalas pelukan, melainkan memberi isyarat agar wanita itu melep

