Clara duduk memeluk lututnya di sofa sejak kepergian Jevian pagi itu. Jam di dinding sudah bergerak beberapa kali, tapi posisinya tidak berubah. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi latar yang sama sekali tidak ia perhatikan. Pikirannya penuh, terlalu penuh, sampai rasanya kepalanya berdenyut pelan. Nama itu terus berputar di kepalanya. Yeri. Clara menutup mata, mencoba menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, mengingatkan bahwa ia tidak boleh langsung menuduh, tidak boleh langsung berpikir yang paling buruk. Tapi semakin ia mencoba, semakin pikirannya melompat jauh. Ia teringat semua momen kecil yang selama ini ia abaikan. Jevian yang sering pulang larut dengan alasan pekerjaan. Jevian yang beberapa kali terlihat melamun

