Telepon dari Jevian membuat Jeremy terpaku sejenak, seperti seorang ayah yang tiba-tiba kehilangan pijakan. Barusan Jevian berkata dengan suara patah, terbata, penuh rasa sakit — dan itu sudah cukup membuat wajah Jeremy mengeras. “Papa… Clara… mereka bawa Clara… Papa… tolong…” Nada suara itu bukan sekadar panik. Itu suara seseorang yang sedang melihat dunia yang ia sayang direnggut dari tangannya. Jeremy menutup laptopnya dengan sangat keras sampai layar hampir retak. “Semua ikut aku sekarang!” teriak Jeremy kepada seluruh anak buahnya yang sedang berjaga di lantai bawah rumah. Mereka langsung berlari berkumpul. “Tuan Jeremy, ada apa?” Jeremy menatap mereka dengan mata berapi. “Putra aku diserang. Clara dibawa paksa. Kita cari mereka. Sekarang!” “Baik, Tuan!” Tanpa membuang detik,

