Malam itu begitu pekat. Awan menggantung rendah di langit, menutupi cahaya bulan. Angin malam berdesir melewati lorong-lorong sempit kawasan kumuh pinggir kota, membawa aroma lembap dan takut yang begitu kuat. Di sebuah gang kecil yang hanya diterangi satu lampu kusam, sebuah mobil tua berhenti dengan suara rem berdecit kasar. Pintu belakang terbuka, dan tangan kasar Carden langsung menarik lengan Clara keluar. “A-aku mohon… jangan lakukan ini…” Clara menangis, suaranya pecah dan terputus-putus. “Diam!” Carden membentak sambil mencengkeram bahunya kuat sekali. “Kamu pikir aku punya pilihan?! Aku butuh uang! Jevian bikin hidupku hancur, dan sekarang kamu harus bantu aku dapat duit dari kekacauan itu!” Clara menggeleng sambil terisak, “Aku nggak mau dijual… please, aku mau pulang…” Card

