Pagi itu seharusnya menjadi hari biasa bagi Clara dan Jevian. Mereka sedang sarapan bubur ayam yang dipesan Jevian, dan Clara mulai sedikit tenang setelah malam penuh kecemasan. Jevian sempat tersenyum melihat Clara mengaduk buburnya perlahan, meski sorot mata gadis itu masih menyimpan rasa takut. Namun ketenangan itu hancur dalam hitungan detik. Tok… tok… tok. Ketukan keras. Bukan satu atau dua ketukan biasa. Tapi ketukan beruntun yang membuat Clara spontan melonjak kecil dari kursinya dan Jevian langsung memalingkan kepala ke pintu. Wajah Jevian mengeras. Clara menggenggam lengan bajunya. “Jevian… siapa?” Jevi tidak menjawab. Ia bangkit dan berjalan pelan ke arah pintu, langkahnya berat namun penuh kewaspadaan. Dari balik pintu, terdengar suara laki-laki. “Polisi. Kami ingin berte

