Pagi di Turki tiba dengan cahaya keemasan yang menelusup lembut melalui tirai tipis kamar hotel. Clara menggeliat perlahan, membuka mata dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibanding minggu–minggu sebelumnya. Jevian masih tertidur, wajahnya tampak damai dan sedikit menghadap ke arahnya, seolah semalaman menjaga Clara tanpa bergerak. Clara tersenyum kecil, lalu bangkit perlahan, turun dari tempat tidur tanpa membuat suara. Ia berjalan menuju balkon yang tadi malam mereka lihat sekilas sebelum tidur. Begitu pintu kaca geser itu dibuka, udara pagi Turki menyapa kulitnya—dingin, segar, penuh aroma laut dan roti yang baru dipanggang dari kedai-kedai kecil di bawah sana. Clara bersandar di pagar balkon, menatap kota Istanbul yang baru saja bangun. Gedung-gedung kuno berwarna krem dan cokela

