Cappadocia pagi itu masih seperti mimpi. Setelah balon udara turun perlahan ke tanah, Clara masih menggenggam tangan Jevian seolah takut semuanya akan lenyap jika ia melepaskannya. Cincin di jarinya berkilau setiap terkena cahaya matahari, membuat pipinya merona setiap kali pandangannya jatuh ke sana. Mereka kembali ke hotel dalam keadaan setengah melayang, tidak sepenuhnya percaya bahwa hari itu akan menjadi hari yang mereka kenang selamanya. Jevian terus mencuri pandang, kadang tersenyum tanpa sadar, kadang menghela napas panjang penuh lega karena semuanya berjalan lebih indah dari yang ia bayangkan. Begitu mereka masuk ke kamar hotel, Clara langsung duduk di tepi tempat tidur sambil menatap cincin itu lama, sedangkan Jevian meraih ponselnya yang beberapa kali bergetar sejak mereka tur

