Briana muncul di depan pintu apartemen Jevian pada pagi hari yang cerah. Sinar matahari menembus kaca jendela koridor, memantul lembut pada rambut Briana yang tampak tersusun rapi, seolah ia sudah mempersiapkan sesuatu yang sangat penting sejak subuh. Di tangannya, ia membawa sebuah tas kecil dan amplop tipis berwarna emas. Langkahnya mantap, tapi wajahnya memancarkan kekhawatiran mendalam—kekhawatiran seorang Mama yang baru saja melewati masa panjang penuh ketegangan karena putra dan calon menantunya mengalami mimpi buruk yang begitu gelap. Ia mengetuk pintu pelan, dan Jevian yang membuka pintu tampak terkejut melihat sang Mama muncul tanpa pemberitahuan. “Mama?” tanyanya refleks, meski suaranya tidak terlalu lantang. Wajah Jevian masih terlihat letih setelah beberapa hari terakhir yang

