Hujan turun tipis ketika Jevian berdiri di depan papan peta besar yang memenuhi satu sisi dinding ruang kerjanya. Garis-garis merah, titik-titik koordinat, dan catatan kecil menempel di sana, semuanya membentuk satu gambaran besar yang membuat dadanya semakin sesak setiap kali ia menatapnya. Hutan. Nama itu berulang kali muncul di setiap laporan yang masuk sejak pagi. Hutan di pinggiran kota, wilayah yang jarang dijamah, penuh semak liar, sungai kecil, dan gudang-gudang tua bekas proyek gagal. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan seseorang. Atau… menghilangkannya. Jevian menelan ludah. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Ulangi,” suaranya serak, matanya menatap tajam ke arah pria di depannya. Pria itu membuka tablet, memperbesar peta satelit. “Kami melacak pergerakan mobil sewaan ya

