Pagi itu rumah masih tenang ketika Jevian sudah kembali duduk di ruang kerjanya. Matahari baru naik setengah, sinarnya menyelinap lewat celah tirai tipis. Clara masih tidur di kamar, tertidur pulas setelah semalam akhirnya bisa tenang memikirkan bulan madu mereka. Napasnya teratur, wajahnya damai—itu saja sudah cukup membuat Jevian yakin bahwa keputusan Turki adalah pilihan yang tepat. Jevian menutup pintu ruang kerja pelan, memastikan tidak ada suara yang menggaynggu. Ia duduk, membuka ponsel khusus kerja yang jarang ia gunakan di rumah kecuali untuk hal-hal penting. Jarinya mengetik cepat sebuah pesan singkat. “Pagi. Saya mau kamu siapkan tiket pesawat VVIP ke Turki. Dua orang. Jadwal fleksibel, tapi saya mau yang paling nyaman.” Pesan itu terkirim. Tidak sampai satu menit, balasan ma

