Clara masih tertawa kecil ketika mereka akhirnya duduk berhadapan di restoran sederhana itu, sebuah tempat makan yang tidak mencolok dari luar, dengan lampu kuning hangat dan meja-meja kayu yang memberi kesan akrab. Berbeda jauh dengan restoran mewah yang biasa Jevian datangi untuk jamuan bisnis, tempat ini justru membuat Clara merasa lebih santai. Ia melepas tas kecilnya, duduk dengan nyaman, lalu membuka menu dengan mata berbinar seolah belum lelah sama sekali meski seharian mereka berjalan, tertawa, dan berteriak kegirangan di Dufan. Jevian memperhatikan Clara tanpa berkedip, senyum di wajahnya tidak juga memudar sejak mereka melangkah masuk ke restoran itu. Gaun yang dikenakan Clara pagi tadi memang sudah berganti menjadi pakaian yang lebih sederhana, tetapi aura cerianya masih sama,

