Pagi itu apartemen terasa lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, memantul di lantai marmer yang bersih. Jevian berdiri di dekat pintu kamar, tangannya menyelip di saku celana, matanya tidak lepas dari sosok Clara yang baru saja keluar dari kamar. Gaun yang dikenakan Clara sederhana, tidak terlalu mewah, namun jatuh begitu anggun di tubuhnya. Warna lembut itu membuat wajah Clara terlihat semakin cerah. Rambutnya dibiarkan terurai dengan rapi, sedikit bergelombang di ujungnya. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya senyum kecil yang selalu berhasil membuat Jevian lupa pada dunia di sekitarnya. Jevian tersenyum manis, senyum yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun. “Kamu cantik sekali pagi ini,” ucapnya pelan. Clara berhenti melangkah, menatap Jevian deng

