Jevian duduk kaku di balik meja kerjanya, pandangannya tertuju pada kedua orang tua yang kini duduk berhadapan dengannya. Jeremy bersandar tenang di kursi, wajahnya datar namun sorot matanya tajam, sementara Briana sama sekali tidak bisa diam. Sejak tadi wanita itu terus berbicara, nada suaranya naik turun, penuh penekanan, seolah waktu adalah musuh yang sedang mengejar mereka semua. Briana tidak peduli bahwa mereka berada di kantor, di perusahaan besar milik putranya, dengan dinding kaca dan sekretaris yang bisa saja mendengar percakapan mereka. Baginya, satu hal jauh lebih penting. Clara. “Kapan kamu menikahi Clara?” suara Briana kembali terdengar, lebih tegas dari sebelumnya. “Jevian, Mama tidak mau kalian terus seperti ini. Tinggal bersama, pergi ke mana-mana bersama, tapi tanpa stat

