Clara terbangun dengan napas yang masih terasa berat. Cahaya sore masuk samar melalui jendela rumah sakit, membuat bayangan tirai bergoyang pelan. Suara monitor jantung berdetak stabil, namun tubuhnya masih terasa asing, seolah ia baru kembali dari tempat yang sangat jauh. Jevian duduk di samping ranjang, matanya menatap Clara tanpa berkedip. Sejak Clara mulai lebih sering terjaga, ia nyaris tak pernah beranjak jauh. Tangannya selalu siap menggenggam, bahunya selalu siap menjadi tempat bersandar. Briana duduk di sisi lain, tangannya bertaut di pangkuan. Ia berusaha terlihat tenang, namun sorot matanya penuh kecemasan yang tertahan. Jeremy berdiri sedikit menjauh, bersandar pada dinding, memberi ruang namun tak benar-benar pergi. Clara menatap langit-langit cukup lama sebelum akhirnya be

