Ruang perawatan intensif itu sunyi dengan cara yang menyesakkan. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang dipenuhi bunyi mesin, monitor detak jantung, dan napas buatan yang keluar masuk ke paru-paru Clara. Tubuh gadis itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, kulitnya pucat hampir menyerupai warna seprai putih yang menyelimutinya. Selang-selang terpasang di hidung dan lengannya, seolah menjadi penghubung terakhir antara hidup dan kematian. Jevian berdiri kaku di sisi ranjang. Kedua kakinya terasa tak lagi menopang tubuhnya sendiri. Bahunya jatuh, napasnya berat, dan dadanya terasa seperti diremas tangan tak terlihat. Matanya tak pernah lepas dari wajah Clara. Wajah yang biasanya hidup, keras kepala, penuh ekspresi, kini diam tanpa reaksi. Tidak ada kerutan marah, tidak ada sen

