Clara duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar pada sandaran empuk, namun tubuhnya terasa sama sekali tidak nyaman. Lampu kamar menyala temaram, tapi pikirannya jauh lebih gelap dari itu. Pandangannya kosong menatap lantai, sementara kedua tangannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. Dokumen itu kembali terbayang jelas di kepalanya. Tulisan rapi, tanggal, catatan kecil yang diselipkan begitu saja, seolah bukan sesuatu yang penting. Namun bagi Clara, satu kalimat itu seperti palu yang menghantam dadanya tanpa ampun. “Tiga tahun lagi.” Tiga tahun. Bukan bulan. Bukan satu tahun. Tiga tahun penuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Clara mengangkat tangannya, menghapus cepat pipinya, seolah takut ada orang yang melihat kelemahannya, padahal ia sendirian di kama

