Begitu pintu kamar hotel tertutup rapat di belakang mereka, Clara langsung berhenti melangkah. Bahunya turun, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya. Pandangannya menyapu ruangan hotel yang luas itu hanya sekilas, lalu tubuhnya sedikit condong ke depan seakan seluruh tenaganya tertinggal di luar pintu. Jevian yang masih memegang beberapa paper bag belanjaan menoleh dan langsung menangkap perubahan itu. “Kamu capek,” ucapnya sambil tersenyum kecil, nada suaranya bukan bertanya, tapi memastikan. Clara mengangguk pelan. “Aku tidak menyangka jalan hari ini terasa sepanjang ini.” Jevian tertawa kecil, suara tawanya ringan namun hangat. Ia meletakkan semua paper bag itu di meja dekat pintu dengan hati-hati, satu per satu, tanpa terburu-buru. Setelah itu ia kembali mendekati Clara yang

