Clara membuka matanya perlahan saat dokter masuk ke kamar rumah sakit pagi itu. Cahaya matahari masuk menembus tirai tipis, membuat ruangan terasa hangat dan terang. Sang dokter tersenyum kecil sambil membawa berkas hasil pemeriksaan terakhir Clara. Wajahnya terlihat puas, seakan kabar yang dibawanya benar-benar baik. Clara menegakkan tubuh pelan, masih merasakan sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dibandingkan hari sebelumnya. Jevian berdiri di samping ranjang, langsung memegang bahu Clara agar gadis itu tidak terburu-buru duduk. Briana dan Jeremy yang sejak subuh sudah ada di sana ikut mendekat dengan wajah penasaran, memandang dokter dengan harapan. Dokter tersenyum hangat. “Clara, saya punya kabar baik. Kondisimu sudah stabil. Tifusnya sudah berangsur sembuh dan tubuhmu merespons ob

