Siang itu cahaya matahari masuk melalui jendela besar restoran dengan tirai tipis berwarna krem. Meja mereka berada di sudut, tidak terlalu ramai, cukup privat untuk berbicara tanpa terganggu suara lain. Piring-piring berisi makanan siang tersusun rapi, masih hangat, aroma masakan menyatu dengan udara yang tenang. Clara duduk berhadapan dengan Jevian. Ia memegang sendok, tapi belum menyentuh makanannya sejak beberapa menit lalu. Matanya fokus pada Jevian, seolah ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Jevian menyadari itu. Ia menghentikan gerakan tangannya, menatap Clara. “Kamu kenapa?” tanya Jevian. Clara tersenyum kecil, agak ragu. “Aku lagi mikir.” “Mikir apa?” Clara menghela napas pelan. “Soal tanggal.” Jevian mengangguk. “Kita sudah sepakat, kan?” Clara mengangguk juga. “Dua Febru

