Bab 8. Belenggu Hasrat Mantan

1143 Kata
Sofa panjang itu menjadi saksi bisu keganasan Gavin yang sudah kehilangan kendali. Amarah, cemburu, dan nafsu yang tertahan sebulan penuh meledak jadi satu. Gavin mencengkeram kedua tangan Gwiyomi ke atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik kasar kerah jubah mandi sutra Gwiyomi hingga terdengar suara kain yang robek mengenaskan. Sret! Gaun tidur gading itu terbelah, memperlihatkan kulit mulus Gwiyomi yang kini terekspos udara dingin AC. Gavin tidak memberi ampun, ia menyerang ceruk leher Gwiyomi, menggigit dan menghisapnya hingga meninggalkan tanda keunguan yang kontras dan berantakan. Jas dan kemejanya pun telah dibuang entah ke mana. "Kamu milikku, Gwi! Jangan pernah sebut nama Frans atau pria manapun di depanku!" gertak Gavin dengan suara parau yang buas. Di tengah pergulatan yang panas itu, ketika Gavin sedang sibuk menciumi bahunya dengan beringas, Gwiyomi justru mendongak ke langit-langit apartemen. Bukannya ketakutan, ia justru tertawa rendah yang terdengar sangat puas dan mengerikan di telinga Gavin. Gavin menghentikan aksinya, ia mendongak menatap Gwiyomi dengan dahi berkerut. "Kenapa kamu tertawa, hah?!" Gwiyomi mengusap sisa keringat di pelipis Gavin dengan ujung jarinya, lalu membisikkan kata-kata yang membuat darah Gavin seketika membeku. "Kejutan untukmu, Gavin Mahendra..." Tepat saat kata itu terucap, ponsel Gwiyomi yang tergeletak di atas meja samping sofa bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar yang menyala terang. Vanka Mahendra Drrrtt... Drrrtt... Gavin tertegun, matanya membelalak menatap layar ponsel itu. Belum sempat ia bereaksi, Gwiyomi sudah meraih ponselnya dan menekan tombol loudspeaker sambil menatap Gavin dengan tatapan mengejek. "Halo, Vanka?" suara Gwiyomi terdengar sangat tenang, bahkan sedikit ceria, kontras dengan kondisinya yang sedang ditindih Gavin dengan baju robek. "Kak Gwi! Maaf ya aku telat sepuluh menit. Aku sudah di depan pintu apartemen Kakak sekarang. File rencana liburan keluarga yang Kakak minta diskusikan tadi sudah aku bawa semua." Suara Vanka terdengar sangat riang dari seberang telepon. Deg. Jantung Gavin rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Ternyata Gwiyomi tidak berbohong soal Frans, tapi ia menyembunyikan fakta bahwa ia juga punya janji dengan Vanka untuk membahas detail liburan keluarga malam ini. "Kak? Kak Gwi di dalam kan?" panggil Vanka lagi karena Gwiyomi belum menjawab. "Gwi... apa-apaan ini?! Kenapa kamu tidak bilang Vanka mau ke sini?!" desis Gavin dengan suara yang gemetar hebat sementara matanya menatap pintu apartemen dengan tatapan horor. Ia segera menyambar ponsel wanita itu dan mematikannya. "Oh, aku lupa memberitahumu ya? Vanka bilang dia ingin liburan ini sempurna, jadi aku menyarankannya untuk datang malam ini agar kami bisa memilih vila bersama," jawab Gwiyomi sambil tersenyum manis. "Kenapa kamu pucat begitu, Sayang? Bukankah tadi kamu sangat bersemangat ingin menandai aku?" “s**t!" Gavin masih terengah-engah di atas tubuh Gwiyomi, tangannya masih mencengkeram kain sutra yang sudah sobek itu. Namun, tawa Gwiyomi yang dingin membuat gairahnya seketika berubah menjadi rasa was-was yang mencekam. "Kenapa diam, Gavin?" Gwiyomi berbisik, jemarinya merambat naik, mengusap rahang Gavin yang masih mengeras. Ia sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang baru saja bajunya dirobek paksa. "Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menghancurkanmu. Aku diam pun... kamu sendiri yang berlari masuk ke dalam jeratku, 'kan?" Gwiyomi menatap mata Gavin dengan binar kemenangan yang mengerikan. "Lihat dirimu sekarang. Kamu CEO Mahendra Group, tapi di mataku, kamu hanya pria menyedihkan yang gemetar karena ketakutan setengah mati pada istrinya sendiri." "Diam! b******k kamu!" Gavin mengeram, ia hendak membungkam mulut Gwiyomi kembali dengan ciuman kasar, namun tepat saat itu ponsel di meja kembali bergetar. Drrrtt... Drrrtt... Incoming Call : Vanka Mahendra. Disusul dengan suara bel yang ditekan berkali-kali dari luar. Gavin langsung meloncat mundur dari sofa seolah-olah baru saja tersengat listrik. Ia menatap pintu apartemen dengan mata melotot, lalu menatap Gwiyomi yang masih bersandar santai di sofa dengan bahu terekspos dan leher penuh tanda merah. "Gwi, tolong... jangan buka pintunya sekarang. Aku... aku akan pergi," desis Gavin, suaranya pecah antara amarah dan kepanikan yang luar biasa. Ia menyambar kemejanya yang berantakan, mencoba memakainya dengan tangan yang gemetar hebat hingga kancingnya meleset berkali-kali. Gwiyomi duduk, ia membiarkan jubah sutranya yang robek itu merosot, memperlihatkan tanda merah yang dibuat Gavin di bahunya. Ia menopang dagu, menatap Gavin yang sedang kalap. "Pergi? Lewat mana? Apartemen ini di lantai 22, Gavin. Mau lompat dari balkon?" ledek Gwiyomi dengan nada sangat lembut namun mematikan. "Atau kamu mau aku yang membukakan pintu dan bilang pada Vanka kalau suaminya sedang membantuku... memeriksa proyek di sofa?" "Sialan kamu, Gwi! Kamu sengaja melakukan ini!" Gavin menunjuk wajah Gwiyomi dengan jari yang bergetar. "Tentu saja aku sengaja. Bukankah kamu suka bermain api?" Gwiyomi berdiri, melangkah mendekati Gavin yang mundur ketakutan. "Sekarang, pilihannya ada padamu. Sembunyi, atau tetap di sini dan jelaskan pada Vanka kenapa bajuku robek." Gavin tidak punya waktu lagi untuk memaki. Dengan wajah pucat pasi dan harga diri yang sudah runtuh ke dasar lantai, ia menyambar jas dan sepatunya, lalu lari terbirit-b***t masuk ke dalam kamar tidur Gwiyomi dan membanting pintunya sepelan mungkin tepat sebelum pintu depan terbuka. Gwiyomi menarik napas panjang, mengulas senyum iblisnya sekali lagi, lalu menarik sehelai outer panjang untuk menutupi tubuhnya namun sengaja tidak mengancingnya dengan benar. Ia membukakan pintu segera pada Vanka yang sudah menunggunya itu. Pintu terbuka, dan Vanka masuk dengan membawa map besar. "Kak Gwi! Maaf ya lama, tadi macet di—" Vanka menghentikan kalimatnya. Matanya tertuju pada Gwiyomi yang rambutnya acak-acakan dan bibirnya sedikit bengkak. "Kak... Kakak tidak apa-apa? Wajah Kakak... dan leher Kakak..." Gwiyomi menyentuh lehernya yang berdenyut, lalu melirik ke arah pintu kamarnya di mana Gavin mungkin sedang menahan napas di balik sana. "Oh, ini? Tidak apa-apa, Vanka. Tadi ada tamu kasar yang memaksa masuk. Tapi jangan khawatir, aku sudah berhasil menjinakkannya." Vanka mengerutkan keningnya berpikir, tetapi ia ingat jika hari ini Frans pulang. Ia tertawa kecil, sudah lebih paham pastinya untuk urusan orang dewasa jadi ia pun tak banyak bertanya. *** Di dalam kamar yang remang-remang, Gavin bersandar di balik pintu dengan napas yang tertahan. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Vanka bisa mendengarnya dari ruang tengah. Ia bisa mendengar suara tawa kecil Gwiyomi dan suara Vanka yang sedang antusias membuka map rencana liburan mereka. "Sialan," umpat Gavin tanpa suara. Ia merasa seperti pecundang paling hina. CEO Mahendra Group, meringkuk di kamar mantan kekasihnya seperti pencuri. Gavin mencoba menenangkan diri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Gwiyomi. Kamar itu sangat rapi, beraroma mawar yang menenangkan. Langkah Gavin bergerak tanpa sadar menuju meja rias. Di sana, di antara deretan botol parfum dan skincare, matanya menangkap sebuah bingkai foto kayu sederhana yang diletakkan sedikit tersembunyi di balik cermin besar. Gavin mengambil bingkai itu. Seketika, tangannya membeku. Di dalam foto itu, Gwiyomi tampak tersenyum sangat tulus, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan lagi pada Gavin sejak kepulangannya. Di pelukannya, ada seorang anak laki-laki berusia sekitar dua tahun dengan pipi chubby dan mata yang bulat cerdas. Anak itu tertawa lebar sambil memegang pipi Gwiyomi. Darah Gavin seolah berhenti mengalir. Ia memperhatikan detail wajah anak itu. Rambutnya, bentuk bibirnya... "Siapa anak ini?" bisik Gavin parau. Happy Reading TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN